KUA Siberut Utara

Catin Nampak KUA Siberut Utara: Lima Pohon Jadi Modal Ketahanan Pangan dan Sedekah Lingkungan

Siberut Utara — Memasuki kehidupan rumah tangga, pasangan calon pengantin tidak hanya menyiapkan kehidupan keluarga, tetapi juga didorong membangun ketahanan pangan dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui program Catin Nampak (Calon Pengantin Menanam Berdampak), KUA Siberut Utara mengajak pasangan menanam pohon sebagai investasi keluarga sekaligus wujud ekoteologi dan sedekah yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Semangat tersebut diwujudkan pasangan calon pengantin Muslim dan Maghdalena, yang menanam lima pohon, terdiri atas empat pohon pisang dan satu pohon cengkeh, di Dusun Bose, Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Selasa (29/9/2026) siang.

Muslim merupakan warga Dusun Bose, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara. Sementara Maghdalena juga berasal dari Dusun Bose, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara. Keduanya mengikuti kegiatan penanaman sebagai bagian dari pengembangan program Catin Nampak yang didorong KUA Siberut Utara.

Kepala KUA Siberut Utara, M. Mujamma’ul Khair, MA, menjelaskan bahwa Catin Nampak dikembangkan tidak hanya sebagai gerakan penghijauan, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran calon pengantin tentang pentingnya menyiapkan modal kehidupan rumah tangga sejak awal.

“Iko (ini – red) merupakan pengembangan dari program catin nampak, yang penanaman pohonnya dilakukan di lokasi fasum sebagai wujud ekotheologi dan konsep sedekah. Hari ini kito (kita – red) memotifasi setiap catin untuk bisa memotifasi diri sendiri menanam minimal 5 pohon sebagai modal awal ketahanan pangan mereka. Ditanam di lahan masing2 dengan simbol tanaman ini adalah investasi catin yang akan mereka tanam, rawat dan diharapkan bisa menghasilkan buah beberapa waktu kedepan… Pisang akan tumbuh dan panen lalu ada anak2nya sebagai kelanjutannya, kelapa 6 tahun ke depan akan menghasilkan buah, bisa dinikmati atau dijual untuk kelangsungan hidup mereka berdua… Konsepnya setidaknya ketika catin mau menikah mereka telah menyiapkan modal dasar 5 pohon untuk ditanam dan dirawat sendiri dan hasilnya untuk diri mereka sendiri juga, sedangkan program catin nampak ibaratnya ditanam, dirawat untuk diaedekahkan kemanfaatannya…. Jadi konsepnya kolaborasi ketahanan pangan diri catin dan juga investasi akhirat berupa wakaf untuk fasilitas umum,” ujarnya.

Menurut M. Mujamma’ul Khair, penanaman pohon oleh calon pengantin memiliki dua arah manfaat. Pertama, pasangan didorong memiliki tanaman produktif yang dapat dirawat dan dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga. Kedua, melalui pengembangan Catin Nampak, penanaman di fasilitas umum diarahkan menjadi bentuk kemanfaatan yang dapat dinikmati masyarakat.

Pilihan tanaman juga memiliki nilai praktis. Empat pohon pisang dapat tumbuh dan berkembang melalui tunas sehingga dapat terus diperbanyak, sedangkan pohon cengkeh merupakan tanaman yang memiliki nilai manfaat dan dapat menjadi bagian dari investasi jangka panjang keluarga apabila dirawat dengan baik.

Program tersebut sekaligus memperkenalkan pendekatan bahwa membangun keluarga dapat berjalan beriringan dengan menjaga lingkungan. Nilai ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari tanggung jawab manusia, sementara konsep sedekah menekankan agar sesuatu yang ditanam dapat memberikan manfaat bagi pihak lain.

Praktik serupa juga dikembangkan oleh sejumlah satuan kerja Kementerian Agama di daerah lain. KUA dan calon pengantin di berbagai daerah menjadikan penanaman pohon sebagai bagian dari penguatan ekoteologi, dengan menempatkan pohon bukan sekadar simbol, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan kehidupan generasi mendatang.

Dalam konteks Catin Nampak di Siberut Utara, gerakan tersebut dikembangkan dengan menambahkan dimensi ketahanan pangan keluarga dan kemanfaatan fasilitas umum. Dengan demikian, calon pengantin diajak memulai kehidupan baru melalui langkah sederhana yang dapat dirawat, tumbuh, dan memberikan hasil.Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KUA Siberut Utara menghadirkan layanan keagamaan yang tidak berhenti pada administrasi perkawinan, tetapi memberikan edukasi dan manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat tersebut selaras dengan arah Asta Protas Kementerian Agama, khususnya penguatan ekoteologi dan layanan keagamaan yang memberikan dampak bagi masyarakat. Pemberitaan Kementerian Agama juga menempatkan program penanaman pohon oleh calon pengantin sebagai salah satu bentuk konkret penguatan ekoteologi.

Bagi KUA Siberut Utara, setiap pohon yang ditanam menjadi pengingat bahwa membangun rumah tangga bukan hanya tentang memulai kehidupan bersama, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan, merawat lingkungan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Melalui Catin Nampak, lima pohon yang ditanam hari ini diharapkan tumbuh menjadi manfaat bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat—sebuah ikhtiar sederhana untuk menanam kebaikan yang manfaatnya dapat terus berlanjut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *