
SIKABALUAN, MENTAWAI – Pagi hari yang cerah di awal bulan Zulhijah berubah menjadi momen penuh perjuangan bagi jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Siberut Utara. Pada Senin pagi (18/5/2026), tepat pukul 08.00 WIB, fenomena banjir pasang air laut atau rob merendam seluruh area halaman kantor yang terletak di Dusun Muara, Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Peristiwa alam yang terjadi bertepatan dengan tanggal 1 Zulhijah 1447 Hijriah ini menggenangi halaman KUA dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa. Beruntung, air tertahan tepat 10 sentimeter di bawah lantai utama ruang kantor, sehingga dokumen penting keagamaan dan perangkat administrasi digital aman dari rendaman air asin.
Meskipun akses jalan dan halaman kantor berubah menjadi hamparan air, semangat pelayanan publik di beranda terluar Indonesia ini sama sekali tidak surut. Para pegawai KUA Siberut Utara tetap bersiaga dan beraktivitas di dalam ruangan, memastikan masyarakat yang membutuhkan pelayanan administrasi keagamaan dan pencatatan nikah tetap terlayani dengan baik.
Ancaman Nyata Perubahan Iklim di Garis Pantai
Fenomena banjir pasang di Dusun Muara ini menjadi alarm penanda bagi tantangan geografis yang dihadapi oleh instansi pemerintah di kawasan pesisir Kepulauan Mentawai. Karakteristik wilayah yang berbatasan langsung dengan samudra lepas membuat kawasan pemukiman dan perkantoran di Muara Sikabaluan menjadi sangat rentan terhadap kenaikan fluktuasi air laut.
Warga setempat menuturkan bahwa banjir rob dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan.
“Banjir pasang seperti ini sudah menjadi tantangan musiman kami di pesisir. Namun, ketika air sudah mencapai setinggi lutut di halaman kantor pelayanan masyarakat seperti KUA, ini menandakan kita harus semakin waspada dan adaptif,” ujar salah seorang warga Sikabaluan.
Pelayanan Tetap Berjalan di Atas Kepungan Air
Hingga berita ini diturunkan, air pasang dilaporkan masih menggenangi area halaman. Belum ada laporan kerusakan material yang berarti dari kompleks KUA Siberut Utara, mengingat konstruksi bangunan utama yang sudah diantisipasi dengan posisi lantai yang lebih tinggi dari permukaan tanah sekitar.
Peristiwa hari ini menjadi bukti nyata dedikasi para aparatur sipil negara di pelosok Mentawai. Di tengah kepungan air pasang sedalam lutut, komitmen untuk menghadirkan pelayanan publik yang prima dan tanpa batas tetap tegak berdiri demi kemaslahatan umat. Perlu adanya perhatian dan kajian jangka panjang terkait infrastruktur penahan tanggul pantai atau opsi peninggian halaman di masa depan, agar pelayanan publik di Siberut Utara dapat berjalan lebih aman dan nyaman di segala kondisi alam.



